Kementrans Komitmen Jadikan Daerah Transmigrasi Menjadi Pusat Ekonomi Baru dan Berkelanjutan

Berita Trend Indonesia – Seperti yang kita tahu, sejak beberapa tahun yang lalu, pemerintah Indonesia telah mempunyai program Transmigrasi.

Sebagai informasi bahwa program Transmigrasi merupakan suatu proses perpindahan penduduk secara sukarela dari satu wilayah ke wilayah yang lainnya, dengan tujuan untuk menyelaraskan jumlah populasi penduduk di suatu daerah tertentu dan menyeimbangkan roda ekonomi di seluruh daerah Indonesia.

Diketahui, saat ini negara Indonesia telah dinobatkan sebagai negara dengan tingkat populasi penduduk tertinggi di dunia, yakni mencapai 287,06 juta jiwa, dan jumlah penduduk tersebut akan terus mengalami kenaikan dari tahun ke tahun.

Sebagai contoh pada pada tahun 2024 jumlah penduduk di negara Indonesia sebesar 282,48 juta jiwa, dan pada tahun 2025 mengalami kenaikan hingga 1,09 persen, yakni menjadi 286,7 juta jiwa.

Tingginya populasi penduduk tersebut membuat sejumlah daerah di Indonesia semakin padat, bahkan sejumlah daerah juga mengalami kemacetan yang sangat parah, contohnya ialah seperti DKI Jakarta, Kota Semarang, Kota Surabaya, dan lainnya.

Oleh karena itu, untuk menangani masalah kepadatan tersebut, pemerintah membuat program transmigrasi, yakni memindahkan penduduk dari wilayah padat ke wilayah yang masih sepi dan asri.

Tetapi, pada realitanya, saat ini program transmigrasi justru tidak disukai oleh banyak masyarakat di Indonesia, karena mereka berpikir bahwa kawasan transmigrasi adalah kawasan yang terpencil, tertinggal, tidak diperhatikan oleh pemerintah, dan jauh dari kata sejahtera.

Baru-baru ini, Kementerian Transmigrasi telah resmi berkolaborasi dengan Anak Transmigran Republik Indonesia (PATRI) untuk membantu pemerintah dalam menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi baru dan berkelanjutan di kawasan transmigrasi.

Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi menjelaskan, pada tahun 2026 ini pihaknya akan menggelar sejumlah program unggulan khusus untuk para transmigran, dan harapannya program unggulan ini mampu mendongkrak nilai ekonomi kawasan transmigrasi, meningkatkan pendapatan masyarakat transmigran, membuka lapangan kerja, mewujudkan swasembada pangan kawasan transmigrasi, dan meningkatkan taraf hidup masyarakat.

Menurut Viva Yoga Mauladi, program unggulan yang akan dilakukan oleh pihak Kementrans dan Patri telah sesuai dengan arahan Presiden Prabowo Subianto tentang visi Astacita Presiden.

Bahkan, dalam realisasinya, pihak Kementrans dan Patri juga akan menggandeng sejumlah investor dari berbagai sektor, seperti Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan pihak Swasta.

Dengan adanya kerja sama oleh pihak BUMN dan Swasta maka kawasan transmigrasi akan menjadi kawasan yang unggul dengan melalui pemberdayaan masyarakat dan pengembangan sumber daya manusia yang unggul, sehingga nantinya kawasan transmigrasi akan menciptakan peluang usaha baru yang berkelanjutan, kreatif, dan inovatif.

Hal tersebut disampaikan langsung oleh Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi dalam acara Rapat Kerja Nasional (Rekernas) Ke-5 PATRI di Balai Besar Pelatihan dan Pemberdayaan Masyarakat (BBPPM) Transmigrasi, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

 

BRIN Dorong Program Transmigrasi Berbasis Sains

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Arif Satria (brin.go.id)

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria mengatakan, pihaknya akan mendukung program transmigrasi yang ada di Indonesia, dan dukungan tersebut dilakukan dengan sistem yang berbasis sains.

Menurut Arif Satria, transmigrasi bukan semata-mata soal gerakan pemindahan masyarakat ke satu wilayah ke wilayah yang lainnya saja, melainkan program transmigrasi harus didukung penuh dengan teknologi, kekuatan resiliensi masyarakat, resiliensi alam, demografi, dan penguatan sosial budaya.

Arif Satria mengaku bahwa pada zaman yang modern ini, program transmigrasi tidak bisa dilakukan dengan hanya pendekatan konvensional atau seminar saja, melainkan harus dilakukan dengan tiga pilar utama, yakni resiliensi, keberlanjutan, dan kemanusiaan,

Agar program transmigrasi dapat dilakukan dengan lancar dan mencapai tiga pilar tersebut, maka proses pengembangan dan riset yang unggul wajib diterapkan dan menjadi pondasi utama program transmigrasi.

Arif Satria juga mengaku bahwa saat ini pihaknya telah membangun sistem dalam pendekatan perspektif yang holistik, mulai dari penyiapan pemukiman masyarakat transmigran, kemudian riset proses pemindahan dan penempatan masyarakat transmigran, riset asimilasi masyarakat lokal dan masyarakat transmigran, serta riset pengembangan (program) transmigrasi.

Plt. Deputi Bidang Kebijakan Pembangunan sekaligus Direktur Kebijakan Ekonomi, Ketenagakerjaan, dan Pengembangan Regional BRIN Anugerah Widiyanto mengatakan, program transmigrasi ini juga dapat digunakan pemerintah untuk mengembangkan suatu wilayah yang cukup tertinggal dan menyelesaikan permasalahan yang ada di wilayah kawasan transmigrasi.

Sebagai contoh yakni wilayah Sulawesi membutuhkan penguatan hilirisasi sumber daya yang strategis dan agroindustri, wilayah Kalimantan memerlukan kemudahan akses dan penguatan nilai tambah, dan wilayah Nusa Tenggara membutuhkan investasi terhadap ekonomi lokal dalam skala menengah yang adaptif pada kondisi wilayah yang kering.

Related posts